SiapQC lolos

Bab 5 | Cinta Indonesia

Bab ini berisi materi tentang kunjungan ke tempat bersejarah seperti Gedung Djoeang '45 Solo dan Museum Negeri Provinsi Papua, dilengkapi dengan pembahasan tata bahasa mengenai penulisan angka, bilangan, huruf kapital, serta etika berkunjung ke museum.

Ringkasan

Bab ini berisi materi tentang kunjungan ke tempat bersejarah seperti Gedung Djoeang '45 Solo dan Museum Negeri Provinsi Papua, dilengkapi dengan pembahasan tata bahasa mengenai penulisan angka, bilangan, huruf kapital, serta etika berkunjung ke museum.

Isi Materi

A. Berkunjung ke Tempat Bersejarah

Pernahkah kamu mengunjungi tempat bersejarah? Apa pengalaman mengesankan yang kamu dapat?

Membaca

Berkunjung ke Gedung Djoeang ‘45 Solo

Pada hari Sabtu lalu aku sekeluarga berkunjung ke Gedung Djoeang ‘45. Sudah lama aku mendengar tentang gedung ini. Konon gedung ini menyimpan aneka foto bersejarah tentang kota Surakarta yang juga dikenal dengan Solo. Gedung ini juga menyimpan sejuta cerita tentang kisah-kisah tentara Belanda yang pernah tinggal di dalamya. Konon gedung itu dulu asrama tentara Belanda sebelum diambil alih oleh Jepang. Ah, semua kisah ini makin membuatku penasaran.

Kami sampai di gedung itu pada pukul 17.00 WIB. Gedung yang terletak di Jalan Mayor Sunaryo, Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo itu terlihat ramai. Lokasi gedung ini cukup strategis, berada di sebelah timur Beteng Trade Center (BTC), sebuah lokasi perbelanjaan populer di Solo. Aku lega kami sampai pada jam tersebut, mengingat jarak rumahku ke museum yang cukup jauh, yakni sejauh 20 km. Apalagi kami baru berangkat pukul 16.15 WIB. Dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 45 menit, tadi aku sempat khawatir kami sampai menjelang malam. Untunglah perjalanan berlangsung lancar.

Gedung Djoeang ‘45 merupakan gedung bergaya Eropa. Bangunannya menjulang megah dalam balutan cat putih. Halamannya berlantai batu, menghampar dalam warna putih dan abu-abu gelap, bak papan catur. Di halaman depan gedung yang memanjang ke samping, terdapat air mancur dan taman rumput yang hijau. Saat Matahari tenggelam dan lampu-lampu mulai dinyalakan, air mancur itu terlihat gemerlap terkena kerlip lampu. Di bawah pendaran cahaya, taman yang dipercantik dengan tanaman hias, gazebo mini, dan kursi taman yang di atasnya terdapat dengan tanaman rambat itu, tampak memukau. Ada Tugu Prasasti menjulang di bagian kanan halaman gedung. Tinggi tugu itu sepuluh meter.

Begitu melewati pintu masuk, kami menemukan ruang yang berisi koleksi foto Kota Solo pada zaman penjajahan Belanda. Ada juga beberapa tulisan yang berisi informasi dari Kota Solo pada saat itu. Kami sempat berbicara dengan seorang pemandu museum yang bernama Pak Budi Pur. Beliau menuturkan bahwa Gedung Djoeang ‘45 mulai dibangun tahun 1876 dan selesai tahun 1880.

Pada awalnya gedung ini digunakan sebagai kantin dan klinik untuk tentara Belanda. Setelah beberapa waktu, fungsi gedung ini diperluas menjadi asrama militer. Ini terjadi setelah Benteng Vastenburg yang ada di bagian utara gedung, tidak sanggup lagi menampung jumlah tentara. Saat pendudukan Jepang, gedung ini kemudian diambil tentara Jepang dan mereka gunakan sebagai barak militer. Sejarah gedung ini berlanjut ketika Indonesia merebut gedung ini setelah kemerdekaan dan mengubahnya menjadi tempat para pejuang.

Setelah melewati ruang pertama, kami sampai di bagian tengah gedung yang berupa ruang terbuka. Di ruang ini terdapat beberapa kursi taman serta lampu jalan bergaya Eropa dan beberapa ornamen lainnya. Banyak pengunjung yang betah berlama-lama di sana. Ada di antara mereka yang sedang duduk santai dan berfoto, ada juga yang menjelajahi setiap sudut ruang terbuka mengamati arsitektur khas gedung.

Tidak banyak koleksi barang yang dipamerkan di Gedung Djoeang ‘45. Akan tetapi, suasana masa lalu sangat terasa saat aku di sana. Aku bersyukur mengunjungi Gedung Djoeang ‘45 di sore hari. Ternyata suasana sorenya sangat menyenangkan, pun pendaran lampu membuat arsitektur gedungnya terlihat lebih indah. Tempat itu sungguh menyenangkan sebagai tempat bersantai sore.

Kosakata Baru

  • pemandu: orang yang memberikan bimbingan, penerangan, dan petunjuk
  • koleksi: kumpulan (gambar, benda bersejarah, lukisan, dan sebagainya)
  • berkunjung: bepergian, mengunjungi
  • arsitektur: metode dan gaya rancangan suatu bangunan
  • zaman: masa, jangka waktu yang menandai sesuatu

Bahas Bahasa

Pada teks “Berkunjung ke Gedung Djoeang ‘45 Solo” kamu menemukan penulisan angka dan bilangan seperti berikut:

  1. Kami sampai di gedung itu pada pukul 17.00 WIB.
  2. Tinggi tugu itu kira-kira sepuluh meter.
  3. Beliau menuturkan bahwa Gedung Djoeang ‘45 mulai dibangun tahun 1876 dan selesai tahun 1880.

Aturan penulisan:

  1. Penulisan angka jam yang menunjukkan waktu menggunakan tanda titik (.) untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik.
  2. Bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf. Jika memiliki koma, ditulis dalam bentuk angka.
  3. Penulisan tahun menggunakan angka secara utuh.
  4. Simbol apostrof (‘) digunakan untuk menunjukkan penghilangan bagian angka tahun dalam keadaan tertentu atau khusus.

Referensi

Indonesia_BS_KLS_V_Rev.pdf